Lampung Timur – Puluhan gajah liar dari hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kembali memasuki peladangan jagung milik petani di Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur. Kejadian ini sudah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni sejak Rabu hingga Jumat, menurut keterangan Kepala Desa Braja Asri.
Menurut Kepala Desa Braja Asri Darusman, gajah-gajah tersebut keluar dari hutan setiap malam hari untuk mencari makan. “Warga kami harus menunggu tanaman mereka hancur karena serangan gajah liar. Sementara, mereka ingin menikmati momen hari raya, malah harus menjaga peladangan mereka,” keluh Darusman. Dia menambahkan, serangan gajah liar ini sudah menjadi masalah yang kerap terjadi selama bertahun-tahun.
Setiap kali serangan terjadi, rombongan gajah liar terdiri lebih dari 20 ekor. Hal ini membuat para petani terpaksa berjaga-jaga di tengah malam agar tanaman mereka tidak habis dimakan atau dirusak. Meskipun demikian, serangan gajah liar tetap sulit dicegah, bahkan dengan upaya penjagaan yang maksimal. “Meskipun kami jaga, gajah-gajah itu tetap berhasil merusak tanaman kami,” ujar Darusman.
Sebagai Kepala Desa, Darusman mengungkapkan bahwa masalah ini sudah berlangsung puluhan tahun dan seolah menjadi resiko yang harus dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan TNWK. “Terus gunanya pemerintah apa? Ini adalah persoalan nasional yang seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten, Provinsi, dan Pusat,” kata Darusman dengan nada kecewa.
Darusman juga menambahkan bahwa meskipun pihak Balai TNWK sering menyampaikan agar masyarakat hidup berdampingan dengan gajah liar, sejauh ini belum ada solusi konkret untuk melindungi petani dari kerugian yang ditimbulkan. “Kami perlu solusi agar petani tidak terus dirugikan. Jangan hanya alasan hidup berdampingan, tapi bagaimana petani tetap aman dan tanaman mereka tidak dihancurkan,” katanya.
Untuk mengatasi masalah ini, Darusman mengusulkan agar pemerintah membuat kanal pembatas antara hutan dan pemukiman masyarakat. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat memberikan bantuan bibit tanaman gratis bagi petani yang tanamannya dirusak oleh gajah liar. “Misalnya, jagung petani rusak, maka pemerintah harus memberikan bibit jagung gratis untuk keperluan sulam tanaman yang rusak,” terang Darusman.
Sebagai upaya untuk mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah pusat, Darusman mengungkapkan bahwa masyarakat setempat sudah mulai gerah dan berniat untuk menggiring gajah liar hingga ke jalan raya. “Saya sebagai Kepala Desa sudah sering mencegah warga yang hendak menggiring gajah liar ke jalan raya,” ujar Darusman. Ia berharap dengan cara ini, perhatian pemerintah pusat akan lebih besar terhadap persoalan ini.
Sebagai langkah konkrit, Darusman berharap pihak Balai TNWK dapat memfasilitasi pertemuan antara petani dari desa penyangga dengan pihak berwenang. “Kepala Balai TNWK harus duduk bareng dengan petani desa penyangga untuk berdiskusi tentang solusi yang dapat diambil agar petani tidak terus-menerus dirugikan oleh serangan gajah liar,” tutupnya. (Red/Adv)