Lampung Timur (SuryaLampung) – Kreativitas memanfaatkan lahan pekarangan dan limbah hasil gilingan padi menjadi sumber penghasilan dilakukan oleh Doni Nuryadi, warga Desa Karyatani, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Dengan memanfaatkan pekarangan belakang rumah, ia mengubahnya menjadi kolam ikan patin yang produktif.
Selain memiliki lahan kolam, Doni juga menjalankan usaha penggilingan padi. Limbah berupa dedak hasil gilingan dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan patin, sehingga menghemat biaya operasional pemeliharaan.
Dedak tersebut dicampur dengan ikan asin yang dibeli dari nelayan di pesisir Desa Muara Gadingmas, Kecamatan Labuhan Maringgai. Campuran dedak dan ikan asin kemudian digiling kembali hingga menjadi pakan paten bagi ikan patinnya.
“Kebetulan saya usaha penggilingan gabah, jadi dedaknya saya manfaatkan untuk pakan ikan patin,” ujar Doni Nuryadi, yang akrab disapa Haji Nur, saat ditemui di lokasi kolamnya. Selasa (12/8/2025).
Usaha ini awalnya hanya dimaksudkan sebagai kegiatan sambilan. Saat ini Haji Nur memiliki tiga petak kolam yang masing-masing diisi dengan jumlah benih berbeda. Kolam pertama berisi 4.700 ekor, kolam kedua 3.500 ekor, dan kolam ketiga 2.700 ekor ikan patin.
Menurutnya, waktu pemeliharaan ikan patin hingga siap panen memerlukan sekitar empat bulan. Selama periode itu, pemberian pakan dilakukan secara teratur agar pertumbuhan ikan optimal.
“Harga ikan patin relatif stabil, sekarang sekitar Rp18 ribu per kilogram,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, pemasaran ikan patin tergolong mudah. Setiap kali panen, pembeli langsung mendatangi kolam tanpa perlu ia mencari pasar. Hal ini membuat usaha sambilan tersebut tetap menguntungkan dan praktis dijalankan.
Selain mengurangi limbah dari usaha penggilingan padi, kegiatan ini juga memberikan manfaat ganda. Ia dapat menghemat biaya pakan sekaligus mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan ikan patin.
Haji Nur menilai, usaha memanfaatkan dedek sebagai pakan ikan sangat cocok diterapkan oleh warga desa yang memiliki usaha penggilingan padi. Pasalnya, selain ramah lingkungan, biaya produksi bisa ditekan secara signifikan.
“Kalau mau mulai, sebenarnya modalnya tidak terlalu besar, yang penting telaten dan rajin memberi pakan,” katanya.
Ia berharap ke depan, usaha ini dapat diperluas dengan menambah jumlah kolam. Dengan begitu, hasil panen ikan patin dapat lebih banyak dan memberi dampak ekonomi yang lebih besar bagi keluarga.
Bagi Haji Nur, usaha memelihara ikan patin di pekarangan rumah menjadi bukti bahwa lahan sempit pun dapat dioptimalkan untuk menghasilkan keuntungan, apalagi jika disinergikan dengan usaha lain yang sudah berjalan.