Ketahanan Pangan Desa Srijosari Didorong Melalui Usaha Penggemukan Sapi

Uncategorized14 Dilihat

Lampung Timur (SuryaLampung) – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sido Makmur Desa Srijosari, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, tengah mengembangkan usaha penggemukan sapi betina mandul sebagai bagian dari program ketahanan pangan berbasis Dana Desa tahun 2025.

Ketua BUMDes Sido Makmur, Marsim, menjelaskan bahwa program ini dijalankan untuk meningkatkan perekonomian warga sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa. Wawancara dilakukan Senin (25/8/2025) di Balai Desa Srijosari.

Menurut Marsim, usaha yang dikelola BUMDes Sido Makmur berbeda dari pola umum, karena hanya membeli sapi betina yang mandul. “Alasannya sederhana, sapi mandul harganya lebih murah. Kami lakukan penggemukan selama enam bulan, setelah itu sapi dijual kembali dengan harga lebih tinggi,” ujarnya.

Sistem pemeliharaan sapi tersebut melibatkan langsung warga melalui pola gaduh. Masyarakat desa diberi kesempatan memelihara sapi milik BUMDes dengan perjanjian pembagian keuntungan.

Sebagai contoh, kata Marsim, apabila seekor sapi mandul dibeli seharga Rp10 juta dan setelah enam bulan dipelihara lalu dijual Rp15 juta, maka keuntungan Rp5 juta akan dibagi sesuai kesepakatan. “Pembagian hasilnya 60 persen untuk penggaduh sapi, sedangkan 40 persen untuk BUMDes,” jelasnya.

Skema tersebut dinilai cukup adil karena memberikan keuntungan langsung kepada warga yang menggaduh, sekaligus menambah pendapatan BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa. Dengan demikian, manfaat program dapat dirasakan bersama.

“Tujuan utama kami bukan hanya soal keuntungan BUMDes, tetapi juga bagaimana warga bisa merasakan tambahan penghasilan. Semangatnya sesuai dengan program pemerintah, yakni memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa,” tambah Marsim.

Saat ini, BUMDes Sido Makmur telah memiliki delapan ekor sapi betina mandul yang semuanya dipelihara oleh delapan warga Desa Srijosari. Masing-masing warga memegang tanggung jawab atas satu ekor sapi.

Namun demikian, pengurus BUMDes tetap melakukan seleksi dalam menentukan siapa warga yang dipercaya menjadi penggaduh. “Kami melihat dari sisi kesanggupan, pengalaman, dan tanggung jawab warga. Jangan sampai ada yang asal dipilih, karena ini menyangkut aset desa,” ungkap Marsim.

Dana untuk membeli delapan ekor sapi tersebut berasal dari Dana Desa 2025 yang dicairkan pada termin pertama. Setiap ekor sapi dibeli dengan kisaran harga Rp12 juta, sehingga total anggaran yang digunakan mencapai sekitar Rp100 juta.

Program ini dipandang strategis karena tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan masyarakat melalui sistem bagi hasil yang transparan.

Marsim menyebutkan, rencana ke depan pihaknya akan menambah jumlah sapi. “Pada pencairan Dana Desa termin kedua sekitar Oktober 2025, kami berencana membeli tujuh ekor sapi mandul lagi. Jadi jumlah keseluruhan bisa mencapai 15 ekor,” katanya.

Ia optimistis, dengan bertambahnya jumlah sapi, keuntungan yang diterima warga juga semakin besar. Apalagi permintaan pasar terhadap daging sapi di Lampung Timur masih cukup tinggi.

“Kalau program ini terus berjalan lancar, kami berharap BUMDes Sido Makmur bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain. Prinsipnya sederhana, asal dikelola dengan jujur dan profesional, insyaallah hasilnya akan baik,” tegas Marsim.

Program ketahanan pangan melalui BUMDes Sido Makmur ini diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Srijosari, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa dengan memanfaatkan Dana Desa secara tepat sasaran.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *