Kapal Miniatur Abidin, Dari Limbah Kayu Menjadi Sumber Harapan

Uncategorized15 Dilihat

Jakarta (SuryaLampung) – Di sudut rumah bambu sederhana tampak sebuah karya seni yang unik sekaligus bernilai tinggi. Seorang pria lanjut usia itu dengan telaten memegang sebuah miniatur kapal layar tradisional yang terbuat dari kayu. Jemarinya yang mulai berkerut tampak lihai membelai halus setiap lekuk miniatur kapal yang menyerupai perahu asli.

Miniatur kapal buatan Abidin tidak sembarangan. Detailnya sangat rapi, mulai dari badan kapal, dek bertingkat, hingga tiang layar yang tegak kokoh dengan kain berwarna cokelat kekuningan. Bahkan, di bagian atas kapal, ia menambahkan bendera merah putih kecil yang berkibar anggun, melambangkan identitas Indonesia.

Kesan klasik dan elegan begitu kuat terpancar dari miniatur karya Abidin. Setiap bagian kapal seakan hidup, seolah siap berlayar menembus samudera. “Saya ingin karya ini bukan hanya sekadar pajangan, tetapi juga punya ruh kebaharian,” ujar Abidin saat ditemui di Pulau Kelapa Dua, Kamis (27/8/2025).

Pria berusia 66 tahun itu memang memiliki kecintaan mendalam terhadap laut. Namun, usia yang tak lagi muda membuatnya tidak selalu bisa melaut seperti dulu. Dari situlah muncul gagasan untuk mengubah limbah kayu menjadi karya bernilai ekonomi. “Kayu-kayu ini banyak berserakan di laut. Saya kumpulkan, lalu saya olah jadi kapal miniatur,” katanya.

Bahan utama yang digunakan adalah kayu jati Belanda. Menurut Abidin, kayu ini cukup kuat, mudah dibentuk, dan punya serat indah. Dengan sedikit sentuhan seni, limbah kayu yang tak terpakai itu berubah menjadi karya kerajinan tangan yang memikat.

Pembuatan miniatur kapal ini juga bukan pekerjaan singkat. Abidin mengaku membutuhkan kesabaran ekstra. Dengan menggunakan alat tradisional seperti gergaji kecil, pahat, dan amplas manual, ia menyelesaikan satu miniatur dalam hitungan minggu.

Meski sederhana, harga satu miniatur kapal buatan Abidin bisa mencapai Rp1 juta. Tidak hanya karena keindahan bentuknya, tetapi juga karena setiap kapal memiliki nilai cerita. “Orang membeli bukan hanya kapalnya, tapi juga semangat dan ketelatenan yang ada di dalamnya,” ungkapnya sambil tersenyum.

Usaha kerajinan tangan ini menjadi pengganti sumber penghasilan Abidin ketika ia tidak bisa melaut. Perlahan, miniatur kapal kayu ini membuka jalan baru dalam hidupnya, sekaligus menjaga semangatnya untuk tetap produktif di usia senja.

Namun, perjalanan Abidin tidak lepas dari dukungan pihak lain. Ia mengakui peran besar Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) yang ikut mendorong pengembangan usaha kerajinan miniatur kapal di Pulau Kelapa Dua.

Menurut Abidin, PHE OSES memberikan modal usaha sehingga ia mampu membeli bahan tambahan dan peralatan sederhana untuk mempercepat proses produksi. “Tanpa bantuan itu, saya mungkin tidak bisa membuat banyak miniatur,” tuturnya.

Dukungan ini menjadi bentuk nyata komitmen PHE OSES dalam memberdayakan masyarakat pesisir. Tidak hanya fokus pada sektor energi, perusahaan itu juga menggandeng warga untuk tetap bisa berkarya dan mandiri.

“Bagi saya, bantuan ini bukan hanya soal uang, tapi juga perhatian. Kami merasa tidak ditinggalkan,” ucap Abidin penuh haru. Ia berharap ke depan makin banyak warga pulau yang ikut mencoba usaha serupa.

Selain modal, PHE OSES juga membantu memperluas akses pasar. Beberapa miniatur kapal buatan Abidin bahkan sudah dipamerkan dalam kegiatan resmi, sehingga dikenal lebih luas oleh masyarakat perkotaan.

Kini, Abidin semakin mantap menekuni dunia kerajinan. Ia ingin miniatur kapal karyanya bisa menjadi ikon Pulau Kelapa Dua, sekaligus pengingat bahwa dari limbah pun bisa lahir karya bernilai tinggi.

“Saya hanya ingin meninggalkan jejak. Kapal-kapal kecil ini adalah warisan sederhana untuk anak cucu saya,” pungkas Abidin, sambil menatap miniatur kapalnya yang tampak gagah berdiri di atas meja kayu tua.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *