Pesawaran – Anggota DPRD Provinsi Lampung, Yudha Alhadjid, menegaskan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila tidak cukup berhenti pada tataran slogan, melainkan harus dimulai dari lingkungan paling dasar, yakni keluarga. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang digelar di Desa Kota Jawa, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, Minggu (18/01/2026).
Kegiatan yang dihadiri masyarakat setempat itu menghadirkan narasumber Dr. Rifandy Ritonga, SH, MH dan Poltak Aritonang, sebagai bagian dari upaya DPRD Lampung memperkuat ketahanan ideologi masyarakat di tengah tantangan perubahan sosial yang kian kompleks.
Dalam sambutannya, Yudha menekankan bahwa Pancasila harus menjadi pedoman hidup yang nyata dalam keseharian, terutama dalam pola asuh dan pendidikan karakter anak-anak di rumah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu yang hadir. Melalui silaturahmi ini, saya berharap kita semua dapat memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari keluarga,” ujar Yudha.
Anggota Fraksi NasDem DPRD Provinsi Lampung tersebut menilai sosialisasi Pancasila menjadi semakin relevan di tengah dinamika sosial saat ini. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap nilai dasar negara perlu terus diperkuat agar tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga diterapkan secara konkret.
Yudha juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Nilai etika, sopan santun, dan adab mulai terkikis seiring pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan pola pergaulan.
“Jika kita bandingkan dengan masa lalu, sikap anak-anak sekarang sangat berbeda. Etika dan perilaku mulai memudar. Ini harus menjadi perhatian serius kita bersama,” tegas Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung tersebut.
Lebih lanjut, Wakil Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Lampung itu mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi perubahan perilaku anak, mulai dari penggunaan telepon genggam yang tidak terkontrol, lingkungan pergaulan yang kurang sehat, hingga minimnya penguatan pendidikan Pancasila di sekolah.
“Pengaruh handphone sangat kuat. Orang tua harus hadir dan mengawasi penggunaan HP anak-anak. Menyayangi anak bukan berarti melepas kontrol,” ujarnya.
Menurut Yudha, pendidikan karakter berbasis Pancasila harus menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya sekolah dan pemerintah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Ia menilai kegiatan sosialisasi ini merupakan langkah konkret DPRD Lampung dalam menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.
“Saya yakin, keinginan kami sebagai wakil rakyat dan harapan masyarakat sama, yakni menjaga agar nilai-nilai Pancasila tetap membudaya dan terpelihara dengan baik, khususnya di Kabupaten Pesawaran dan Provinsi Lampung secara umum,” pungkasnya. (Red/Adv)
